Author

About the Author
A music enthusiast who teach music. I post random things on my social medias.

Asia Pacific Youth Choir

(I put this as a draft for a long long time, almost a year!)

I was selected as one of Indonesian delegates for Asia Pacific Youth Choir 2019. We have 10 delegates from Indonesia, half of them are the friends I know before this event: Erma, Katya, Inggrid, Lucky, and Jason. APYC 2019 became the ambassador of Asia Pacific Choral Summit 2019 in Hong Kong, which organized by Hong Kong’s Children’s Choir. Before we performed in Hong Kong, we performed i Macao for The International Youth Music Festival: The Belt and Road – Music Throughout Macao, organized by DSEJ and Art Macao.

I learned a lot from the wonderful yet humble conductor, Vivian Ip, and from other singers from 9 different countries: Indonesia, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Taiwan, New Zealand, China, Japan and Philippines. It was an extraordinary experience where I learned so many lessons from every single person I met there, not only the singers but also the conductors and all the organizers. We performed various pieces from different country conducted by a great yet humble conductor, Ms. Vivian Ip.

I was honoured to be selected as one of the soloist for The Time Has Come by Erik Esenvalds, a beautiful piece written with the text from Nelson Mandela’s speech. I honestly never thought of being soloist in such an event, seeing myself as a non-soloist material, but it was a fun experience indeed, especially when we rehearse and perform with different conductors for the conducting competition.

A wonderful experience and beautiful friendship. Thank you!

Check out the highlights of the event here:

Cahaya Purnama

The idea of this piece came after my devotion to the moon. I always feel that the moon gives us a sense of intimacy, thus it brings hope to those who need it. This piece won the 2nd prize in secular music category in choral composition competition on Satya Dharma Gita National Choir Festival 2017.

This version was recorded at GPIB Sangkakala at February 16, 2019. I am so honoured to have Paramabira and Quaver Vocal Ensemble collaborating under the direction of Rainier Revireino.

CAHAYA PURNAMA

Gelap malam t’lah menyapa bertahta cah’ya sang purnama
Memupus kerinduan jiwa pada terang
Sang purnama bercahaya dan memukau para insan
Tak rela bila dia digantikan mentari fajar
Dan bintang menari, memuja rembulan yang bersinar terang
Sang purnama t’lah merasuk hayat dengan rasa cinta
Bintang-bintang berkelip di angkasa
menyerukan pujian untuk sang purnama
Sang purnama merajut asa, memadu kasih, menggugah jiwa
Sang purnama ciptakan asa
Cahaya purnama,
Cahayanya penuh cinta
menyalakan pengarapanku.

Jakarta, June 27th, 2017 (revised on October 2nd, 2017)

A Day Full of Love

Today, on the 14th of February, a lot of people around the world celebrate Valentine’s day. For me, it used to be a day when people send cards, flowers, chocolates, or maybe gifts. But now I am a grown-up, I learned that even though love should not only shown on a particular day, but it is still important to express our love towards others. And today, I saw so many love spread around my social media feeds, which makes me think, I might need to spread some love too!

Last month I had my very first vocal recital done. I have reached my checkpoint, of course with all the good and not-so-good things happened, and I surely earned new knowledge by both kind of experiences.

This is one of my favourite love song me and my friend Nesca have performed on the recital, composed by Robert Schumann (1810-1856) based on the text written by Adelbert von Chamisso (1781-1838). The English translation below is provided by Daniel Platt.

Du Ring an meinem Finger,
  Mein goldnes Ringelein,
Ich drücke dich fromm an die Lippen,
  Dich fromm an das Herze mein.

Ich hatt' ihn ausgeträumet,
  Der Kindheit friedlich schönen Traum,
Ich fand allein mich, verloren
  Im öden, unendlichen Raum.

Du Ring an meinem Finger,
  Da hast du mich erst belehrt,
Hast meinem Blick erschlossen
  Des Lebens unendlichen, tiefen Wert.

Ich will ihm dienen, ihm leben,
  Ihm angehören ganz,
Hin selber mich geben und finden
  Verklärt mich in seinem Glanz.

Du Ring an meinem Finger,
  Mein goldnes Ringelein,
Ich drücke dich fromm an die Lippen,
  Dich fromm an das Herze mein.
Thou ring on my finger, 
my little golden ring, 
I press thee piously upon my lips 
piously upon my heart. 

I had dreamt it, 
the tranquil, lovely dream of childhood, 
I found myself alone and lost 
in barren, infinite space. 

Thou ring on my finger, 
thou hast taught me for the first time, 
hast opened my gaze unto 
the endless, deep value of life. 

I want to serve him, live for him, 
belong to him entire, 
Give myself and find myself 
transfigured in his radiance. 

Thou ring on my finger, 
my little golden ring, 
I press thee piously upon lips, 
piously upon my heart.

Happy Valentine's Day!

Kajian Musik 2

Terdapat beberapa elemen dasar pada sebuah partitur. Garis paranada atau staf, terdiri dari 5 garis dan 4 ruang. Staf merupakan tempat not diletakkan. Pada instrumen-instrumen khusus seperti perkusi tidak bernada (unpitched percussion), jumlah garis dapat berbeda, misalnya pada Djembe hanya terdapat 3 garis saja.

Staf dengan 5 garis dan 4 ruang

Staf dengan 3 garis dan 2 ruang

Untuk mengidentifikasi tinggi rendahnya nada secara spesifik, dibutuhkan clef. Clef tertua disebut sebagai movable clef atau clef C, menandakan posisi nada C. Clef C kini masih dapat ditemukan di clef alto (pada partitur untuk viola) dan kadang clef tenor (pada partitur untuk trombon, bassoon, ataupun selo). Kemudian terdapat treble clef atau clef G yang menandakan nada tinggi dan bass clef atau clef F yang menandakan nada rendah.

alto clef untuk viola

treble clef

bass clef

Khusus untuk penyanyi tenor, pada umumnya menggunakan treble clef dengan tambahan “8” di bawah clefnya, menandakan agar dinyanyikan 1 oktaf lebih rendah.

treble clef untuk penyanyi tenor

Pada treble clef, garis ke-2 dari bawah merupakan nada G di atas middle C (disebut juga sebagai C4, akan dibahas lebih lanjut di kajian berikutnya), sedangkan pada bass clef, garis ke-4 dari bawah yang diapit oleh dua titik clef pada clef tersebut merupakan nada F di bawah middle C

nada G pada treble clef

nada F pada bass clef

posisi middle C pada clef

Untuk nada yang tidak dapat dituliskan di dalam sebuah staf karena terlalu tinggi atau terlalu rendah, terdapat garis bantu atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai ledger lines. Nada middle C sendiri berada di garis bantu pertama di bawah staf treble dan di garis bantu pertama di atas staf bass.

posisi middle C pada treble clef berada pada garis bantu pertama di bawah staf

Apabila jarak cakupan nada mayoritas melebihi garis dan ruang yang terdapat pada staf, komponis sering kali menuliskan notasi tersebut di dalam staf kemudian menambahkan tanda oktaf berupa 8va untuk menandakan agar memainkan nada lebih tinggi 1 oktaf, ataupun 8vb atau 8va below untuk menandakan agar memainkan nada lebih rendah 1 oktaf.

penggunaan tanda 8va dan 8vb. Contoh dapat di dengar di mp3 berikut.

 

Untuk alat musik perkusi tidak bernada seperti drum set, triangle maupun congo, clef yang digunakan disebut neutral clef. Penggunaan garis dan ruang dalam staf untuk perkusi pada umumnya adalah untuk mengetahui ritme dan instrumen yang dimainkan, misalnya pada drum set, tiap ruang dan garis menggambarkan instrumen yang berbeda-beda di dalamnya seperti hi-hat, crash cymbalc, kick, snare dan sebagainya.

neutral clef

 

Sumber:

Bent, Ian D. “Musical Notation.” Encyclopædia Britannica, Encyclopædia Britannica, Inc., 6 Jan. 2019, www.britannica.com/art/musical-notation.

Laitz, Steven Geoffrey. The Complete Musician: an Integrated Approach to Tonal Theory, Analysis, and Listening. Oxford University Press, 2008.

Kajian Musik 1

mu·sik n

1 ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinam-bungan; 2 nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu)

Kata “musik” berasal dari bahasa Yunani mousike, yang memiliki arti “kesenian para Musa” (art of Muses). Para Musa ini adalah 9 dewi kesenian dalam mitos Yunani yang dipimpin oleh Dewa Apollo. Apollo juga disebut sebagai Apollon Musegetes atau panglima Musa, dan ia dipercaya merupakan pencipta musik dawai. Kata “musik” juga diadaptasi dari bahasa Perancis Kuno musique dan Latin musica.

Penulisan musik dengan notasi balok yang kita ketahui sekarang ini juga dikenal sebagai Musik Barat (Western Music). Musik Barat yang ditulis di zaman Barok sampai dengan Romantik, disebut juga sebagai era Praktik Umum atau Common Practice (c. 1650-1900), dinamakan musik tonal. Sistem penulisan notasi balok telah mengalami berbagai perubahan bentuk sampai menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Keberadaan penulisan not balok ini tidak hanya sebagai bentuk dokumentasi untuk mengabadikan musik tersebut dari masa ke masa, tetapi juga membantu kita untuk menyanyikan atau memainkan musik sesuai dengan instruksi komponis atau aransirnya.

Komposisi yang ditulis pada era Praktik Umum memiliki titik gravitasi dengan sebuah nada menjadi pusatnya. Nada yang menjadi pusat orbit tersebut dinamakan tonik, dimana nada-nada lain bergerak mengitarinya dan fenomena ini dinamakan tonalitas.

Di dalam penulisan musik, terdapat beberapa elemen dasar musik yang disampaikan, yakni tinggi rendahnya nada (pitch), durasi, warna suara, serta besar kecilnya suara. Pada prakteknya, sulit sekali untuk mendapatkan seluruh informasi tersebut secara presisi, sehingga sering kali dilakukan penyesuaian interpretasi sampai dengan batas tertentu. Oleh karena itulah, dibutuhkan kemampuan untuk membaca partitur dengan baik agar dapat memainkan atau menyanyikan musik dengan tingkat ketepatan setinggi mungkin.

Sumber:

Bent, Ian D. “Musical Notation.” Encyclopædia Britannica, Encyclopædia Britannica, Inc., 6 Jan. 2019, www.britannica.com/art/musical-notation.

Laitz, Steven Geoffrey. The Complete Musician: an Integrated Approach to Tonal Theory, Analysis, and Listening. Oxford University Press, 2008.

Prier, Karl-Edmund. Sejarah Musik. Pusat Musik Liturgi, 2006.

Setiawan, Ebta. “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).” Arti Kata Karakter – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, kbbi.web.id/musik.

It’s (Almost) Christmas!

It’s almost Christmas!

Early in October, Quaver was approached to join an online vocal group competition held by Mal Ciputra Jakarta. We decided to give a try, and Edo asked me to arrange a Christmas medley for this event, so I excitedly did. I made a simple a cappella arrangement, starting with a slow but sweet Merry Christmas, Darling by Carpenters, and then changing the mood with James Pierpont’s Jingle Bells continued with Johnny Marks’ Rudolph The Rednosed Reindeer and Sammy Cahn’s Let It Snow, and then finally back to Merry Christmas, Darling to end the song.

Yesterday I randomly asked if anyone on my Instagram is interested in having this arrangement for free, and there are plenty of people said yes. So I decided to share it here, feel free to use it under this condition:

You may copy and perform this piece, but please let me know if you do and send me the recording(s) of your performance, so I can listen to your version of this arrangement.

You can download the file here. I hope you enjoy!